Pages

Thursday, January 04, 2007

Surat

Inilah suratku tanda kata yang kauminta
Sekeping hati berdarah yang ditanya semalam
Kemunchak kita, kemunchak yang masih berbalam
Senda yang pahit menggores kabut hujan malam

Jangan kau tanya hati kemarin, sebab ia
Dalam apapun terbuka selama di pintu setia
Sengketa semalam di bibir lepas, dan kata2
Sekedar marah yang timbul dan menghilang
Laksana air selat yang surut dan pasang, sedang air itu
Dalam badai apapun, terbentang merentangi pantai

Ke punchak kita! Ke punchak sekedar rasmi nyata
Hakikat sebenarnya teguh terpadu darah setia kasih
Kurun dan keturunan mewarisi hati sedenyut jantung
Hilai dan senyum membelah gema seratus tahun

Air-matamu adalah tangisku juga
Sekedar berbeda terchurahnya
Apakah yang lebih kejam untuk melukai hati masing2
Dan apakah yang lebih agung untuk tenang di saat genting?

Usman Awang
Kuala Lumpur, Mei 1964


Found Duri dan Api, a collection of Usman Awang's poems in the period 1961 to 1966 at mother's house in BP last week. The book had been eaten by termites and Surat is one of his beautiful poems spared. So, ignore the spelling and enjoy!

1 comment:

aku la.... said...

Hepi new year!Semoga sihat2, pjg umur, murah rezki! Bila nak kenalkan aku dgn member2 yg bleh bwk join biz aku ha? aiyakkkk!!!

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails